TAMU, T-A(KU)-MU
. Malam itu, ia datang kembali. Kali ini suaranya terlampau jelas, mengalahkan suara didihan air yang sudah bergolak lima menit lalu. Aku masih berdiri mematung dan meskipun uap air itu amat panas, kulitku terasa dingin. Kepalaku pening. Suara itu. Kecemasan itu. Ia benar-benar datang lagi. Matikan kompornya, San. Aku terhentak. Aku buru-buru mematikan api dan mengangkat air yang mendidih. Aku menyeduh teh panas. Aku melihat ampas teh memenuhi rongga gelas. Jadi sekarang ada yang kamu cintai lebih dari aku dan aku harus terluka lagi? Perempuan sialan. Mengapa dia bisa berpikir demikian? Apakah dia tahu ada banyak bentuk cinta dan cintaku untuk lelaki itu jelas berbeda dengan cintaku untuk perempuan keparat sepertinya. Bentuk cinta yang beda? Maksudmu bahasa cintamu untuk aku adalah kekecewaan demi kekecewaan? Dia tertawa. Kau bahkan tidak pernah menganggap serius luka yang aku rasakan, nyeri seluruh badanku tak pernah kau...
