TAMU, T-A(KU)-MU

Malam itu, ia datang kembali. 

Kali ini suaranya terlampau jelas, mengalahkan suara didihan air yang sudah bergolak lima menit lalu. Aku masih berdiri mematung dan meskipun uap air itu amat panas, kulitku terasa dingin. Kepalaku pening. Suara itu. Kecemasan itu. Ia benar-benar datang lagi. 

Matikan kompornya, San. 

Aku terhentak. 
Aku buru-buru mematikan api dan mengangkat air yang mendidih. Aku menyeduh teh panas. Aku melihat ampas teh memenuhi rongga gelas. 

Jadi sekarang ada yang kamu cintai lebih dari aku dan aku harus terluka lagi? 

Perempuan sialan. 
Mengapa dia bisa berpikir demikian? Apakah dia tahu ada banyak bentuk cinta dan cintaku untuk lelaki itu jelas berbeda dengan cintaku untuk perempuan keparat sepertinya. 

Bentuk cinta yang beda? Maksudmu bahasa cintamu untuk aku adalah kekecewaan demi kekecewaan? 

Dia tertawa. 

Kau bahkan tidak pernah menganggap serius luka yang aku rasakan, nyeri seluruh badanku tak pernah kau hiraukan, San. 

Dalam tawa nyaringnya, perempuan itu berkaca-kaca. Ia lalu menggulung rambutnya dan menyalakan sebatang rokok. Aku melihat perlahan-lahan, dibalik kebul asap putih yang menyapu wajahnya, dia menangis. 

Celetukan yang membuatku sakit, kebohongan demi kebohongan yang dia lakukan, yang bahkan kebenarannya aku tahu dari orang lain, kau dimana San? Apakah kau membelaku? Tidak sama sekali. 

Aku diam. 
Terpaku. 
Lantas apa yang sebenarnya ia inginkan? 

Mengapa kau penuh pemakluman kepada orang lain dan bisa memaafkan orang lain, termasuk lelaki itu, namun tidak kepadaku? 

Perempuan sialan. Dia sudah pernah berkata demikian dan hampir membuatku patah hati karena mendengar ucapannya dan mengambil keputusan besar untuk lelaki itu, lalu kini dia kembali lagi. Aku bilang jangan bergurau dan mengada-ada, aku tanya sekali lagi apa yang dia inginkan? 

Mengapa kau penuh pemakluman kepada orang lain dan bisa memaafkan orang lain, termasuk lelaki itu, namun tidak kepadaku? 

Aku terhenyak dan dia masih mengulangi kalimat yang sama. 

Apakah dia baru saja kecewa padaku? Karena aku mengabaikan kekecewaannya? 

Aku terluka, Sandra. 
Kau terluka. 

Aku? Mengapa sekarang jadi aku yang terluka? Aku baik-baik saja. 

Aku kecewa, Sandra. Aku dibohongi. Aku disepelekan. 
Kau kecewa. 
Kau disepelekan. 

Aku rasa perempuan ini semakin gila. Dia terlalu berlebihan.
Apa yang sebenarnya kau inginkan, perempuan keparat? 

Aku ingin kau mencintaiku dahulu, baru kemudian mencintai orang lain. 

Kali ini aku gantian tertawa. Sepertinya banyak hal terjadi sejak kau tak pernah datang lagi. 

Jangan bercanda! 
Cepat katakan apa maumu? Teh panasku bahkan sudah mendingin tanpa sedikitpun aku menyeruputnya. 

Apa maumu? Apa yang kau inginkan? 

Aku ingin kau mencintaiku dahulu, baru kemudian mencintai orang lain. 

Aku terpaku. 
Kalimatnya diulang kembali. 
Dia benar-benar menangis. 

Kasihilah sesamamu manusia, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. 
Apa kau sudah mengasihi aku, Sandra?

Aku terhentak. 
Seketika suara musik dalam ruangan lenyap. 
Hanya ada suara detak jarum jam yang berpacu dengan detak jantungku. 

Lalu aku sadar, 
Sedari tadi hanya ada aku disini. 
Hanya ada aku. 


Jakarta, 28 Juni 2026.
.sdt-

Komentar

Postingan Populer