Sabtu, 12 Agustus 2017

hanya masa lalu.

.

merebahkan metafora pada sebaris kalimat.
menghidupkan diksi dalam bait puisi.
mencintai, atau -
memilih untuk tidak (lagi).

seandainya tenggat waktu permisi lebih subuh dari kata-kata yang menjerit
soal rasa yang sudah mati
lebih dari buai dan asumsi
kita tahu bahwa,
yang paling irasional bahkan merengkuh rasionalitasnya sendiri.

aku di sini,
menghirup bau rokok dan menelan imaji.

tentang masa lalu,
ketika bahagia hanyalah menatap dari beranda lantai tiga.


--- terbangun di dini hari, dan teringat kisah usang tahun 2012 ---

.sdt

Minggu, 28 Mei 2017

Rumah Separuh Jadi

Kupersembahkan kisah milik kawanku, K.

Aku tidak menjumpaimu dalam peta. Simbol jalan raya dan garis patah-patah tak berdaya menemukan kehilangan. Peta amat payah melacakmu yang memang menolak ditemukan. Jalan beraspal dan rel kereta, adakah yang rebah dalam ingatku selain seratus dua puluh menit bersamamu di atas mesin sepeda, bergurau menerka cuaca dan kepulangan? Kita sama-sama memiliki satu kota dalam definisi tak terhingga, bukan?

Aku suka menerka isi kepalamu: refleksi, tanya, dan metafora yang menjelma sorot mata atau kikuk malu yang dulu menyelimuti ubun kepala hingga ujung kaki, selalu, setiap detik aku bersamamu. Deham gagah kereta kian redam dalam deham suaramu yang menyulapku untuk melulu berseru ingin tahu: adakah tempat bagiku yang mungkin menjelma asa dan kemungkinan bagi perjalanan kita menyatu dan menemukan kehangatan?

Senyatanya, mungkin aku hanya mencintai imajiku sendiri. Perjalanan kita adalah rumah separuh jadi yang lupa kuberi pintu sadarku, hingga engkau berlari dari ruang asaku, dan memilih memulai perjalanan baru dengan seorang yang ku tahu. Aku, cukuplah di beranda. Atau sesekali berjalan saja, tanpa perlu mengejar engkau kembali dalam realita.

Namun, entah apa yang paling ku rindukan saat ini: kota tempat kita berpulang menamatkan resah, atau ruang sepanjang jalan bersamamu yang bagiku sempat menjelma rumah?

Bagiku. Ya, bagiku.
Setidaknya cukup bagiku.



---


.sdt-

Rabu, 26 April 2017

perempuan tanpa koma

Tiba-tiba saja aku ingin telingaku menjelma ruang kedap suara yang meredam segala bunyi, memeluk pekik frekuensi yang menyayat hati, merebahkan suara-suara itu pada dadaku dan kudekap menjadi nyeriku sendiri.

Aku ingin ruang kepalaku menjelma angkasa tanpa udara, membuatku lupa betapa ringannya bernapas dalam asa, begitu mendebarkannya hidup dalam bayang prasangka.

Aku ingin merombak kata-kata, menjadi pelacur aksara yang mati rasa pada makna, sebongkah diri yang disematkan label harga.

Aku ingin merebahkan diri pada segala bentuk kemungkinan, bagai pelukis yang menyerahkan hidupnya lewat lembar kanvas yang menawarkan keberdayaan: lewat warna, gradasi, makna, dan sisa-sisa goresan.

Mungkin saja, aku hanya dinilai sebatas sentuhan yang kusadari untuk kuserahkan, pula pada indera dan rasa malu yang melekat dalam identitas demi menjadi aku.

Aku ingin menjadi perempuan tanpa tanda koma, wanita yang tak lagi merasa untuk apa tubuhnya ada: etika, atau kepentingan semata.

.sdt-

Ditulis ketika ucapan paling menyesakkan soal kedudukanku sebagai perempuan telah dilontarkan oleh orang yang ada dalam lingkaranku; mengingatkanku pada tokoh Firdaus dalam Perempuan di Titik Nol yang mencapai kebahagiaan tertingginya justru ketika seluruh manusia di muka bumi seakan ingin menariknya dari sana.

Senin, 03 April 2017

..

Mawar tak selamanya merah, pun kelopak kecilnya tak selamanya gugur dalam kepal tangan yang marah.

Langit tak melulu biru, tak jarang awan dan guntur mengaburkan lugu sang biru, menjelma hitam kelabu

Hujan tak selamanya syahdu, seringkali ia menipu bagai tamu yang singah di beranda tanpa kenal waktu.

Kalau suatu saat kau berjalan dan menjumpai serpihan kapas yang ringan bergerak di udara, percayalah bahwa ia semula bunga, aku menyebutnya dandelion.

 sebab bunga tak selalu berkelopak, seperti mawar yang tak selalu merah, dan indah yang tak melulu tanpa amarah.

Kalau kau berjalan dan menjumpai abu-abu menyesap dalam tiap langkahmu, percayalah bahwa ia adalah warna, yang semula dicerca sebab tak senada dengan cerah lainnya.

Jangan lenyap dalam ketakutan.
Sebab takut semula adalah rasa,
Yang hanya tersisih, dari kata siaga.

Sabtu, 11 Maret 2017

;

Kala itu, desah riang hujan menjelma kelabu di pantulan matamu yang sendu. Aku menimang kata-kata, mendekapnya terlalu siaga. Tanda baca hanya reka yang tersisa, tertawa dalam bisu dua manusia yang melupa kita.

Rahasiamu ialah danau yang tenang dan asing, aku pernah menjelma jari-jari yang ringan memberi getar pada heningmu, atau kaki anak-anak yang menorehkan riak kecil tanpa tahu bagaimana rasanya mati ditelan kedalamanmu.

Aku ingin menghayatimu selalu, sampai habis, sampai tiada makna yang mampu mendekapmu selain curigaku, sampai puisi tak lagi mampu memeluk diksi, sampai cinta lupa bahwa untuk menjadikannya benar-benar ada, ia tak butuh kata kita.

Kalau engkau suara kereta yang lenyap diujung jalan, maka aku hanya mampu mencintaimu sebatas kayuhan sepeda tua yang padam lampunya. Ada senja yang kau kejar di tempat lain, lalu kau lupa kalau matahari telah lama bersemayam di dalam tubuhku, berkali-kali ia nyeri membunuh sinarnya sendiri.

.sdt-

Rabu, 25 Januari 2017

Perahu dan Labuan

Aku pernah berkata bahwa aku adalah perjalanan, maka sejak saat itu aku tahu aku hanya dinikmati sebagai ombak yang membuatmu ada, sebab bongkahan besi ataupun kayu belum resmi diakui sebagai perahu jika belum menerjang laut biru. Aku mengerti tempat yang kau tuju adalah labuanmu, bukan ombak biru. Namun engkau harus melewati aku sebelum tiba di labuanmu. Maka dari itu aku tahu aku hanya dibutuhkan sebatas perjalanan, sebagai penyanggah, sebagai pelengkap dan bukan tujuan. Aku mungkin mengerti sendu dan bahagiamu, setiap detail yang terjadi atasmu, sebab ombaklah yang memeluk perahu dalam perjalanannya. Engkaulah perahu itu. Bagaimana bisa ombak dan perahu tidak berbagi jika seluruh perjalanan melekatkan mereka? Akulah si ombak biru. Mereka kira bisa saja aku menenggelamkanmu sewaktu-waktu, namun engkau tahu itu bukanlah aku. Hatiku tak akan sanggup melakukannya. Aku hanya ingin mengantarmu dan memastikan kau tiba di pesisir yang tepat.

Intuisiku berkata kau merindukan labuan. Kau merindukan daratan dan tidak menginginkan ombak biru.

Sebesar apapun cinta ombak kepada perahu, yang dirindukan perahu tetaplah labuan itu.

Kelak saat kau kembali ke labuan, aku akan kembali bergelung, mundur dari pesisirmu, mengikhlaskanmu dengan labuan yang kau rindu.

Lalu aku kembali berisik,

sendiri dalam biruku.



.
.

catatan ini saya buat berdasarkan kisah nyata seorang perempuan yang usianya kurang lebih dua tahun di atas saya dan telah sibuk bekerja. Ia pernah mencintai seorang lelaki dengan segenap daya nya, kemudian patah hati saat lelaki yang dicintainya ternyata telah lama bersanding dengan perempuan lain di negeri yang jauh, di negeri kangguru. Ia memutuskan pergi untuk wanita lain, yang ternyata --tanpa diketahuinya-- lebih dahulu dicintai oleh lelaki itu. Ia pergi untuk perempuan yang resmi ia pilih sebagai kekasihnya, sebagai calon istrinya.

jangan khawatir.
ketika ia memilih pergi kepada kekasihnya di negeri yang jauh itu, tegaskan bahwa kau ombak, yang akan terus bergelung dan hidup, dengan atau tanpa perahu di dalam perjalananmu.

(saya sedih mendengar cerita ini, dan menyadari betapa gila rasa cinta memperdaya setiap insan yang terlibat di dalamnya).

saya ingin memeluk perempuan itu.
dan berkata bahwa hatinya yang lama biarlah mati.
dan engkau harus tetap hidup.
meski sendiri.



.sdt-

Sabtu, 31 Desember 2016

Tahun Baru

Aku tidak menemukan nyaring terompet dan petasan yang dimainkan anak-anak  di halaman rumah pada sekujur tubuhmu, tidak pula warna-warni kembang api yang menyentuh gelap hingga dirinya tak lagi menjadi bayang-bayang. Engkau bukan keramaian, bukan euforia, engkau hanya lampu jalan yang remang dan menyala seperti sediakala. Engkau lalu lalang kendaraan yang melaju ala kadarnya. Engkau jarum jam yang berdetak seirama, tak ada beda. Namun aku ingin meleburkan diriku pada monokrom dan monoton-mu itu, sebab warna dan euforia hanya tamu yang lenyap seiring langit yang cerah esok hari. Tanggalan telah tanggal dan jejak kemarin telah pupus. Engkau bukan perayaan, bukan semarak, namun engkaulah magis yang hidup dalam tiap sorot mata manusia, yang membuatku jatuh berkali-kali dengan senang sekali.  Namun engkau masih saja tidak menyadari bahwa engkaulah keajaiban itu.


Selamat tahun baru.



.sdt-

Kamis, 29 Desember 2016

semesta hari ini

Aku merasakan tubuhku adalah dinding yang kedinginan
Dan gelas kaca yang jatuh itu  memecah keheningan
Tak ada yang bicara di sini
Kepalaku hanya ribut sendiri
Berisik,
Lengah, ku terusik
Langit mendung dan seekor kupu-kupu
Kucing kecil di pinggir jalan yang kehilangan jalan pulang
Semesta hari ini mengirimkan kata-kata pada sang Khalik
Bahwa Tuhan,
Hati ini bagai serpihan dandelion yang pasrah ditelan angin
Dan cinta adalah anggur yang memabukkan lalu genap menidurkan dalam tetes terakhir
Yang membunuh diriku sendiri.





.sdt-

Minggu, 25 Desember 2016

Natal

"Ketika setiap manusia berlomba menjadi lilin di tengah kegelapan, bersediakah engkau menjadi sumbu lilin yang tersembunyi dan rela terbakar demi menjaga sebuah nyala?"

.sdt-

Selasa, 20 Desember 2016

Untuk seorang perempuan yang malam ini patah hati,

Ingatlah bahwa sebelum engkau mempercayakan dirimu dijaga dan dilindungi oleh seorang laki-laki, engkau harus mampu menjaga dirimu sendiri terlebih dahulu.

Sebelum engkau mempercayakan hatimu untuk berbagi dengan seorang laki-laki, engkau harus mampu mengenal dan menguasai hatimu terlebih dahulu.

Jatuh cintalah perlahan-lahan.
Nikmati setiap lara dan bahagia yang datang beriringan.
Jangan mudah menyerahkan segalanya sekaligus
Sebab engkau perlu mencintai dirimu sendiri
Engkau perlu ruang untuk mengasihi dirimu sendiri

Biarkanlah lelaki yang mematahkan hatimu pergi dan tak perlu kembali
Tetaplah percaya bahwa cinta tidak selucu dan sedangkal itu untuk dimengerti oleh seorang lelaki
Cinta itu memerdekakan, sahabatku
Bukan membuatmu terpenjara berlama-lama dalam lingkar abu-abu

- untuk sahabatku yang ditinggalkan satu minggu sebelum pernikahanmu,
Dengarlah, aku ingin memelukmu dari Jogja sebab engkau terasa jauh.


Tetaplah kuat.
Cinta tak akan mati melingkupi ketulusanmu.


.sdt-