Sabtu, 30 Juni 2018

Seorang Teman yang Selalu Sepi dan Tidak Mau Ditemukan


Sewaktu kecil aku suka bermain congklak. Biji-bijinya yang kecil itu sungguh miskin aksara, hanya sesekali nyaring ketika ringan berbenturan dengan lubang-lubang kosong di atas papan kayu.

.

Kalau aku mampir ke rumahmu yang lengang itu, mungkin aku akan menjumpai banyak kata terselip dibalik seduhan kopi dan beberapa potong wafer yang kau suguhkan padaku. Kau tahu, aku bukan bicara berapa manusia yang tinggal di dalam rumahmu, bukan bangunan yang sanggup kita inderai itu. Aku bicara perihal rumah yang kau bawa kemana saja, dan aku akan pergi ke rumahmu sesudah maghrib karena langit malam biasanya menyimpan ruang yang cukup lebar untuk kau isi lewat kata-kata atau percakapan; aku membayangkan duduk di teras depan dan berbincang ringan. Jarak kita hanya satu meja kecil dari dua bangku yang tidak lagi pernah kita tempati. 

Lalu jika tiada lagi kata-kata, bolehkah suara nyaring biji congklak yang terbentur papan kayu menggantikan angan-angan percakapan ringan kita?



Untuk kawanku,
Kawan lamaku,
Seorang manusia yang selalu sepi dan tidak pernah mau ditemukan.

.


.sdt-

Jumat, 25 Mei 2018

Thankyou

I thank God.

Thank you Lord for sending him in my life. I need Your heart inside me, i learn to loving him, day by day, learn to loving by Your heart, because mine is limited.

Thankyou Lord, i love You.
And i believe You really loves him.
And You teach me how to loving him.
And yes, God. I love him.

:)

.sdt-

Terimakasih telah setia mendampingi sampai detik ini.
Tuhan menjagamu. Tuhan menyertaimu.
Tuhan menyertai kita.

Minggu, 25 Februari 2018

Jerit

Aku mendengar suara bayi meronta di dalam perut ibu yang sudah tidak kecil lagi.

Aku ingin selamanya ada dalam rahim ibu.
Kelahiran adalah keterpisahan dari keintiman.
Kelahiran adalah keterpisahan dari keabadian.
Aku menolak tenggelam dalam sejarah.
Aku menolak melebur dalam ingatan yang mudah terjarah.


Aku terbangun.
Kala itu pukul tiga.



.sdt

Seorang Perempuan dan Labirin

Perempuan itu melingkar-lingkar di kepalaku,
menari-nari, duduk menyala api

Perempuan itu menumpuk kayu-kayu dan mencipta perapian
masih di kepalaku, masih di kepalaku

Ia berjalan-jalan di punggungku,
melompat lalu berlari ke ubun-ubun
mengambil paksa wajah lelakiku
lalu dihamburnya dalam labirin waktu.


.sdt


Cicak dan Jejak

di titik limbung,
aku merayap di dinding bagai cicak tua
merenung ia seekor,
tertatih menyisih cat-cat keropos,
merayap lagi, dengan perut kembung.

aku menertawakan lagu-lagu sendu,
lalu suara-suara itu,
lugas bagai mesin ketik tua yang menghantamku

aku tidak bisa meneguk anggur,
atau menghisap rokok sambil berenang dalam matamu yang kabur,

aku duduk saja malam ini,
tak ingin bicara apa-apa soal cinta
cinta hanya kunang-kunang yang lupa pulang
lalu menghamba pada cahaya
dan mendusta pada tubuhnya sendiri.




.sdt-


Untuk seorang perempuan,
S.

Minggu, 28 Mei 2017

Rumah Separuh Jadi

Kupersembahkan kisah milik kawanku, K.

Aku tidak menjumpaimu dalam peta. Simbol jalan raya dan garis patah-patah tak berdaya menemukan kehilangan. Peta amat payah melacakmu yang memang menolak ditemukan. Jalan beraspal dan rel kereta, adakah yang rebah dalam ingatku selain seratus dua puluh menit bersamamu di atas mesin sepeda, bergurau menerka cuaca dan kepulangan? Kita sama-sama memiliki satu kota dalam definisi tak terhingga, bukan?

Aku suka menerka isi kepalamu: refleksi, tanya, dan metafora yang menjelma sorot mata atau kikuk malu yang dulu menyelimuti ubun kepala hingga ujung kaki, selalu, setiap detik aku bersamamu. Deham gagah kereta kian redam dalam deham suaramu yang menyulapku untuk melulu berseru ingin tahu: adakah tempat bagiku yang mungkin menjelma asa dan kemungkinan bagi perjalanan kita menyatu dan menemukan kehangatan?

Senyatanya, mungkin aku hanya mencintai imajiku sendiri. Perjalanan kita adalah rumah separuh jadi yang lupa kuberi pintu sadarku, hingga engkau berlari dari ruang asaku, dan memilih memulai perjalanan baru dengan seorang yang ku tahu. Aku, cukuplah di beranda. Atau sesekali berjalan saja, tanpa perlu mengejar engkau kembali dalam realita.

Namun, entah apa yang paling ku rindukan saat ini: kota tempat kita berpulang menamatkan resah, atau ruang sepanjang jalan bersamamu yang bagiku sempat menjelma rumah?

Bagiku. Ya, bagiku.
Setidaknya cukup bagiku.



---


.sdt-

Kamis, 27 April 2017

be-r-sama

.

Berjalan bersamamu membuatku percaya,
bahwa kelabu tak melulu soal sendu
ia syahdu yang mampu menjelma lagu
mendekapku dalam dimensi yang selalu
bergurau menerka dialog paruh waktu

engkau akasia yang gugur di musim yang selalu lupa
bagaimana caranya ringan rebah jatuh tanpa bicara
dan aku dandelion yang menolak abadi
digugurkan angin, dihanyutkan dingin

mata kecilmu adalah angkasa yang membumi
dan keinginanku untuk memelukmu adalah raksasa dalam tubuh kurcaci
genggaman tanganmu adalah api di malam-malam persami
merekatkan, menghangatkan
ketika kepala kita adalah langit
dan kaki kita ialah tanah berbukit

auramu serupa kanvas putih yang menagih warna
untuk dibubuhkan; untuk ditorehkan
ada rahasia dibalik kelugasanmu
bagai awan yang lihai menyamarkan biru

aku pernah berenang sampai lelah sendiri
mencari-cari batas garis laut yang kerap membuatku kalut
dan engkau pernah berlari, melompat, terbang sampai letih sendiri
mencari ke langit dimana akhir dari kata tinggi

kita terlalu sibuk, mabuk fatamorgana
sampai lupa hati kita terpaut cukup lama
dalam garis takdir yang membimbing kita tanpa getir
bersabar menghadapi dua manusia yang payah
menerka tangan Tuhan membawa hati yang terarah

aku tahu kita bukanlah mayor seirama
aku tetap tahu caranya berdiri tanpamu
demikian pula engkau tetaplah hidup tanpa adanya aku
namun engkaulah api bagi tubuh lilinku yang bersiap lenyap mencipta cahaya
dan aku ruang kosong dalam petik gitarmu yang sering terlupa mencipta nada

namun tetaplah kita abadi menjelma apa saja
ada atau tak ada
sebab keadaan bukanlah ketakutan
dan ketiadaan selamanya menjelma secercah harapan

----------
untuk R,
yang selalu ada dengan caranya.



Mungkin keberadaanku, kesabaranku, kemampuanku,
adalah ketidakmungkinan yang terbatas ruang dan waktu

Namun aku percaya
sejak semula doa adalah lentera
bagi Dia untuk menyatukan kita.

Tuhan mengasihimu, Tuhan menjagamu
Tuhan menyertai kita selalu.


Amin.


.sdt-

Rabu, 26 April 2017

perempuan tanpa koma

Tiba-tiba saja aku ingin telingaku menjelma ruang kedap suara yang meredam segala bunyi, memeluk pekik frekuensi yang menyayat hati, merebahkan suara-suara itu pada dadaku dan kudekap menjadi nyeriku sendiri.

Aku ingin ruang kepalaku menjelma angkasa tanpa udara, membuatku lupa betapa ringannya bernapas dalam asa, begitu mendebarkannya hidup dalam bayang prasangka.

Aku ingin merombak kata-kata, menjadi pelacur aksara yang mati rasa pada makna, sebongkah diri yang disematkan label harga.

Aku ingin merebahkan diri pada segala bentuk kemungkinan, bagai pelukis yang menyerahkan hidupnya lewat lembar kanvas yang menawarkan keberdayaan: lewat warna, gradasi, makna, dan sisa-sisa goresan.

Mungkin saja, aku hanya dinilai sebatas sentuhan yang kusadari untuk kuserahkan, pula pada indera dan rasa malu yang melekat dalam identitas demi menjadi aku.

Aku ingin menjadi perempuan tanpa tanda koma, wanita yang tak lagi merasa untuk apa tubuhnya ada: etika, atau kepentingan semata.

.sdt-

Ditulis ketika ucapan paling menyesakkan soal kedudukanku sebagai perempuan telah dilontarkan oleh orang yang ada dalam lingkaranku; mengingatkanku pada tokoh Firdaus dalam Perempuan di Titik Nol yang mencapai kebahagiaan tertingginya justru ketika seluruh manusia di muka bumi seakan ingin menariknya dari sana.

Senin, 03 April 2017

..

Mawar tak selamanya merah, pun kelopak kecilnya tak selamanya gugur dalam kepal tangan yang marah.

Langit tak melulu biru, tak jarang awan dan guntur mengaburkan lugu sang biru, menjelma hitam kelabu

Hujan tak selamanya syahdu, seringkali ia menipu bagai tamu yang singah di beranda tanpa kenal waktu.

Kalau suatu saat kau berjalan dan menjumpai serpihan kapas yang ringan bergerak di udara, percayalah bahwa ia semula bunga, aku menyebutnya dandelion.

 sebab bunga tak selalu berkelopak, seperti mawar yang tak selalu merah, dan indah yang tak melulu tanpa amarah.

Kalau kau berjalan dan menjumpai abu-abu menyesap dalam tiap langkahmu, percayalah bahwa ia adalah warna, yang semula dicerca sebab tak senada dengan cerah lainnya.

Jangan lenyap dalam ketakutan.
Sebab takut semula adalah rasa,
Yang hanya tersisih, dari kata siaga.

Sabtu, 11 Maret 2017

;

Kala itu, desah riang hujan menjelma kelabu di pantulan matamu yang sendu. Aku menimang kata-kata, mendekapnya terlalu siaga. Tanda baca hanya reka yang tersisa, tertawa dalam bisu dua manusia yang melupa kita.

Rahasiamu ialah danau yang tenang dan asing, aku pernah menjelma jari-jari yang ringan memberi getar pada heningmu, atau kaki anak-anak yang menorehkan riak kecil tanpa tahu bagaimana rasanya mati ditelan kedalamanmu.

Aku ingin menghayatimu selalu, sampai habis, sampai tiada makna yang mampu mendekapmu selain curigaku, sampai puisi tak lagi mampu memeluk diksi, sampai cinta lupa bahwa untuk menjadikannya benar-benar ada, ia tak butuh kata kita.

Kalau engkau suara kereta yang lenyap diujung jalan, maka aku hanya mampu mencintaimu sebatas kayuhan sepeda tua yang padam lampunya. Ada senja yang kau kejar di tempat lain, lalu kau lupa kalau matahari telah lama bersemayam di dalam tubuhku, berkali-kali ia nyeri membunuh sinarnya sendiri.

.sdt-